Dengan semangat tinggi gue berangkat ke stadion siang tadi. Ini adalah laga kandang pertama Indonesia di babak 3 penyisihan Pra Piala Dunia. Lawan yang dihadapi kali ini adalah Bahrain. Setelah kalah di pertandingan tandang pertama lawan Iran. Seluruh lapisan masyarakat berharap BEPE20 dan kawan-kawan mampu meraih point penuh dan mampu menempati posisi kedua dalam klasemen goup sementara. Tapi harapan tinggal sebuah harapan. Semua orang pastinya sudah mengetahui hasil pertandingan yang membuat Indonesia semakin terbenam didasar klasemen. Indonesia akhirnya kalah 2 gol tanpa balas.
Red Flare
Menurut penglihatan kacamata gue ada beberapa hal yang menjadi perhatian gue di pertandingan ini. Gue pengen berbicara tentang suporter (maklum hal ini yang jadi headline dibanyak media). Ulah sebagian penonton yang menyalakan kembang api banyak disoroti karena dianggap merusak nama bangsa Indonesia dimata dunia. Kok bisa merusak nama baik bangsa ya? bahkan pak Arifin menyebutnya sebagai pengkhianat bangsa. Wow.. gue pikir ini terlalu berlebihan bagaimana bisa suporter yang mendukung timnas secara tenaga, suara bahkan materi dianggap sebagai pengkhianat. Gue pikir kita harus mencari akar permasalahan bukan buah permasalahan. Buah permasalahannya adalah petasan yang menyala. Terus akarnya apa? akarnya adalah bagaimana petasan itu bisa masuk ke dalam stadion. Di salah satu media online bahkan menyebutkan bahwa petasan kembang api tersebut dijual di dalam stadion dengan harga 10.000 rupiah. Gila kan... sesuatu barang yang harusnya terlarang didalam arena Stadion malah diperdagangkan. Hebat!!! Itulah cerdasnya masyarakat kita, mampu memanfaatkan peluang usaha dimanapun. Hehehhe,, gue akan mempermaslahkan itu (karena itu menurut gue naluri perut yang butuh makan). Yang menjadi catatan khusus adalah betapa rapuh dan kendornya pengamanan pertandingan oleh aparat keamanan. Gue alami kemarin saat memasuki stadion tanpa ada pemeriksaan. Petugas hanya menarik tiket pertandingan tanpa memeriksa segala bawaan penonton. Inilah yang menurut gue menjadi penyebab masuknya kembang api dalam stadion. (untung aja cuma bawa petasan lah kalo yang dibawa adalah bomb!!!!!!). So kedepannya aparat keamanan harus bisa menerapkan standar keamanan (pengalaman waktu nonton Piala Asia 2007) betapa ketat dan baiknya pengamanan yang dilakukan aparat keamanan (salut untuk bapak yang melakukan pengamanan waktu itu).
Hahaha....gue ganti topik itu biar jadi peer bapak-bapak yang ada diPolda (hehehe). Hal yang jadi perhatian adalah bahwa Bapak presiden Indonesia menyaksikan langsung di SUGBK. Katanya sih untuk memberikan semangat untuk timnas kita. Tapi yang gue sayangkan adalah mengapa bapak kemudian pergi meninggalkan stadion (yang gue denger sih katanya beliau marah kepada para penonton yang menyalakan petasan). Wow..lagi-lagi penonton jadi kambing hitam!!!. Harusnya disaat itu bapak menjadi pemimpin terdepan dalam memberikan contoh dalam mendukung timnas. Maaf pak SBY, karena ketika bapak pulang para pendukung timnas tetap setia mendukung timnas berlaga. Jika alasan keamanan menjadi penyebab, toh posisi bapak ada didalam royal box dengan pengamanan super ketat, lagi pula pertandingan juga berakhir dengan aman dan kondusif. So,,, bapak lain kali harus lebih setia pada timnas bukan pada kepentingan politik..dan bapak juga harus mematahkan mitos bahwa kehadiran bapak distadion tidak selalu berakhir bagi kekalahan timnas (ini kata temen saya lho pak...hehehe pisss).
Terakhir nih... buat meneer Wim Rijsbergen... hehe, Sumpah menurut gue sejak meneer asal Belanda permainan timnas Indonesia berubah. Umpan satu dua tak lagi terlihat dan lebih mengandalkan umpan panjang. Dan pemain pun masih demam panggung terlihat kala pemain masih sering dan mudah kehilangan bola. Permainan yang monoton dengan hanya mengandalkan sisi sayap kiri dan kanan menyebabkan pola permainan mudah diantisipasi. Sangat jarang ada masukan penetrasi dari sisi tengah lapangan. Memang layaknya pelatih harus meningkatkan karakter pemain (maaf pak tiru saja cara RD yang memasukkan pemain ke TC ala kopasus untuk meningkatkan karakter pemain). Intelejensia pemain harus terus ditingkatkan kapan pemain menahan bola dan kapan harus mengoper ke pemain yangg tepat.
Owh,,iya satu lagi nih,, yang ini khusus untuk suporter timnas baik yang dadakan atau pun yang setai mendukung dikala berprestasi baik maupun terpuruk. Indonesia masih menyisakan 4 pertandingan. 2 laga kandang dan 2 laga tandang. Kita harus tetap mendukung timnas apapun hasilnya. DIHIMBAU untuk semua suporter Indonesia untuk tidak berbuat hal-hal yang mengganggu pertandingan. Khawatir jika Indonesia mendapat sanksi larangan pertandingan tanpa penonton. Perlu diketahui bahwa saat Ini posisi Indonesia terancam pada 3 opsi sanksi akibat ulah suporter. Pertama PSSI dikenai denda 1 juta dollar, kedua pertandingan kandang berikutnya dilaksanakan di negara netral, dan ketiga Indonesia masih boleh menggelar pertandingan kandang namun tanpa penonton... Mari kita berpositif thinking bahwa Indonesia sudah terbiasa TERANCAM sanksi dari AFC (hehehe,, santai ya Pak Arifin mudah-mudahan sanksinya tidak turun).
Boleh nih ditiru....


Tidak ada komentar:
Posting Komentar