Selasa, 29 November 2011

PINISI (sepeti uang 100 rupiah yang dilupakan)



Adakah yang melupakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa maritim? Yak, bangsa kita adalah bangsa maritim yang besar. Nenek moyang ku orang pelaut, gemar mengarungi luas samudra. Sedikit nyanyian kita dizaman kecil dulu. Tapi memang lagu tersebut sudah memudar dikalangan anak kecil masa kini. Lebih terbiasa mendengar lagu cengeng yang sebenarnya belum waktunya didengar. Bahkan pasti banyak dari mereka yang tidak kenal dengan perahu pinisi.

Perahu pinisi merupakan perahu tradisional yang terkenal didunia maritim. Perahu ini dibuat di Bulukumba Sulawesi. Perahu pinisi pernah mencatat sejarah dengan menjelajah samudra, yang merupakan perahu tradisional yang melakukan penjelajahan lintas samudra di tahun 1986. Berlayar selama 68 hari dengan jarak 11.000 mil laut. Tujuannya adalah kota Vancouver di Kanada dalam rangka memeriahkan Vancouver Expo. 

Jika dahulu pernah disebutkan bahwa perahu pinisi pernah melakukan penjelajahan hingga Madagaskar. Pelayaran perahu pinisi menuju Vancouver menjadi bukti dizaman modern bahwa Indonesia adalah bangsa maritim yang kuat.

Nenek moyang ku orang pelaut
Gemar mengarungi luas samudra
Menentang ombak tiada takut
Menerjang badai sudah biasa

Jumat, 25 November 2011

Sedikit Tentang Guru Saya

Selamat Hari Guru untuk seluruh guru di Indonesia. Buat gue pribadi selain orang tua, guru adalah sosok penting buat gue. Guru menjadi orang tua kita selama disekolah. Mengajarkan banyak hal, mendidik serta mengenalkan kami kepada banyak hal-hal baru. Gue masih inget jelas guru-guru yang mengajar dari SD hingga SMA. Dan tulisan ini gue dedikasikan untuk mereka.
  1. Ibu Oni. Ibu Oni adalah guru gue waktu SD kelas 1. Belia adalah orang pertama yang mengajarkan membaca dan menulis disekolah. Ibu Oni yang gue kenal adalah ibu Oni yang pandai bernyanyi. Gue masih inget setiap sebelum pulang beliau selalu mengajak kami bernyanyi bersama. Lagu Anak Manis dan Sayonara adalah lagu wajib kami sebelum pulang kerumah. Saya ingat betul ketika ibu Oni mengajak saya dan beberapa kakak kelas saya untuk bertamasya ke Gelanggang Samudra Ancol. Satu hal buruk yang pernah gue alami di kelas 1 SD adalah ketika terjadi Tragedi Penghapus. Penghapus kayu itu melayang tepat dikepala saya berasal dari Ibu Oni.
  2.  Ibu Aspiyah. Ibu Aspiyah ini adalah walikelas di kelas 2 SD. Ciri khasnya adalah mata genitnya. Maksudnya adalah jumlah kedipan mata ibu ini sepertinya melebihi orang-orang pada umumnya.
  3. Pak Kholid. Pak Kholid biasa dipanggil Pa-Ul atau Pa Ol (dengan menghilangkan huruf K pada kata Pak). Beliau mengajar saya saat dikelas 4 SD. Pak Ol punya hobi unik, yaitu tidur. Bahkan Pak Ol bisa tertidur di meja guru saat mengajar. Hebat kan?
  4. Ibu Mur. Nama lengkap ibu Mur adalah Syamsimur Thalib. Adalh ibu guru paling galak yang pernah mengajar saya di SD. Pelajaran matematika menjadi lebih sulit saat itu.
  5. Ibu Wartini. Ibu Wartini adalah kebalikan dari ibu Mur. Ibu Wartini yang biasa dipanggil Bu War sangat baik hati, sabar dan tidak mudah marah. Ibu War ini yang pertama kali menunjuk saya menjadi ketua kelas saat itu.
  6. Ibu Sri Naziawati. Biasa disapa ibu Wiwik. Sebenarnya beliau adalah guru baru. Saya bangga dengan ibu Wiwik yang telah menjadikan kami Juara di beberapa lomba hingga ditingkat walikota Jakarta Selatan. Walau sempat meragukan kami, tapi kami menjawab keraguan itu dengan prestasi.
  7. Bapak Catur Subekti. Biasa kami sapa Pak Beti. Beliau adalah guru olah raga yang membanggakan. Beliau salah satu orang yang membawa obor api saat Pekan Olah Raga Nasional.
  8. Bapak Kasman. Pak Kasman adalah guru Agama Islam di SD saya. Selain guru Agama Islam beliau juga bertugas sebagai pembina pramuka disekolah kami.
  9. Ibu Umi Kultsum. Beliau menjadi walikelas dan guru Fisika kami saat kelas 1 SMP. Ibu Umi sangat baik. Setiap 1 jam pelajaran Fisika selalu digunakan untuk mendengarkan curhatan kami tentang masalah sekolah kami.
  10. Ibu Hera. Ibu Hera adalah walikelas 2 saya. Ibu Hera mengajar bahasa Indonesia. Beliau adalah satu-satunya guru yang tidak berkesan bagi saya. Bahkan untuk nama lengkapnya saja saya lupa.
  11. Ibu Rukijah. Biasa disapa Sting menjadi walikelas 3. Ibu Rukijah mengajar pelajaran ekonomi. Satu hal yang sangat membekas adalah ibu Rukijah ini sangat mirip dengan almarhum ibu saya. Cara berpakaian dan berbicara, jadi saya merasa diajar ibu saya saat berada dikelas.
  12. Bapak Ghazali Nasution. Beliau adalah guru Agama di SMA sekaligus menjadi walikelas 1. Penilaian saya tentang beliau adalah orang yang sangat tertib tentang administrasi keuangan.Karena setiap mengajar Pak Ghazali selalu menyebutkan siapa saja yang belum membayar SPP.
  13. Bapak Nanang. Beliau menjadi walikelas 2 dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Pak Nanang adalah putra Jakarta asli dan tinggal di daerah Bangka Kemang. Sangat mennyukai kerapihan sehingga setiap mengajar selalu mengecek kerapihan kami dari ujung rambut hingga ujung kaki.
  14. Bapak Kodaryanto. Menjadi walikelas terakhir bagi saya. Mengajar matematika. Santai namun tegas. Pernah beberapa kali menghukum saya karena keluar saat jam pelajaran. Rasanya banyak hukuman dan panggilan dari ruang BP yang saya alami saat SMA. Mulai dari bolos, terlambat dan ketidakdisiplinan lain.
  15. Haji Musa dan Ustad Safari Muhammad. Beliau ini yang sangat berjasa bagi saya dalam mengenalkan agama. Mengajari saya mengaji, solat dan memahami Islam lebih baik. Mengaji memang menjadi kewajiban dalam agama saya. Karena ilmu pengetahuan dan agama harus berjalan seimbang.
Menurut gue beberapa orang diatas telah menjadi sosok yang ikut membesarkan gue disekolah formal. Ikut membentuk karakter dan masa depan serta membantu gue menggapai cita dan cinta. Memang gue akan bisa membalas jasa mereka. Biarlah Tuhan yang memberi keindahan hidup dan akhirat bagi mereka yang berjasa di dunia pendidikan. Amin. Terakhir, Selamat Hari Guru untuk semua.

Sabtu, 19 November 2011

Ini CERITA SAYA (sebuah jawaban)


Pagi tadi gue dapet pesan singkat (...sebenernya panjang...) dari temen gue yang nonton langsung pertandingan INDONESIA vs malaysia di SUGBK. Gue sendiri emang gak bisa dateng langsung di SUGBK (gak perlu jelasin alasannya kan?). Lewat layar kaca gue juga gak nonton penuh pertandingan ini. Logikanya, pertandingan ini gak sebatas pertandingan sepakbola saja (ini menurut pendapat gue yah), banyak luapan emosi yang disebabkan oleh rivalitas negara serumpun, mulai dari klaim budaya, wilayah, alat musik, makanan khas hingga kasus tenaga kerja informal yang bekerja di negara tetangga (gue pernah bahas ini beberapa hari lalu). Dan rivalitas kali ini adalah sepak bola. Ibarat dendam yang mentes dihati dan mengeras menjadi batu. Gue pengen malam tadi menjadi ajang balas dendam di final PIALA AFF akhir tahun lalu.

Awalnya gue bingung sejak kapan seorang Rani jadi doyan nonton bola. Karena setau gue lo itu ogah dan gak suka sama bola. Dan kini Rani pun menjadi ULTRAS GARUDA, pendukung setia disaat menang ataupun kalah. Tapi itulah hak asasi, dimana semua orang punya hak yang terbawa sejak lahir dan kita harus menghormatinya. Gak usah lagi lo mengutuki temen2 lo yang bodoh dan dateng telat sampe hampir gak bisa masuk. Yang penting bisa masuk walau dengan berbagai macam aroma. 

Hehehe... Tapi gue interest waktu lo bilang "ada oknum yang jual tiket buntung". Banyak hal yang bikin oknum jadi kaya gitu. Bisa aja jatah uang makan mereka gak lebih dari jatah aparat Brimob yang diberikan oleh PT Freeport di Papua. Yah... itung-itung cari penghasilan tambahan buat istri dan anak dirumah kali ya. Buat kapasitas, yang gue tau SUGBK mampu menampung 88.000 penonton (aslinya 100.000 penonton). Awalnya stadion ini dibuat diperkirakan mampu untuk bertahan hingga tahun 2012, tapi setelah direnovasi ditahun 2007 masa pakai diperpanjang hingga 2051. Tahun 2004, di final piala Tiger Indonesia vs Singpura tercatat 120.000 penonton. Kita memang gak pernah menginginkan hal buruk terjadi. Tapi jelas tindakan oknum menjual tiket buntung itu salah. 

Dan menurut gue, kita juga gak bisa menyalahkan aparat itu juga. Paling tidak kedewasaan dari suporter kita juga harus ditingkatkan. Kita harus sadar, bahwa ketika tiket habis berarti memang sudah sesuai dengan kemampuan stadion menampung massa. Panitia suatu event pasti akan mencetak lembar tiket dibawah kapasitas stadion, ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin bisa terjadi. Lagipula setau gue panitia menyediakan big screen  diluar arena SUGBK. Nah kalo kita sadar akan keselamatan diri, otomatis kita tidak akan pernah membeli tiket buntung juga kan?

Tentang jalannya pertandingan, secara taktik dan strategi memang pelatih lebih tau dan mengerti kebutuhan tim. Kali ini Rahmad Darmawan benar-benar mengesampingkan ego dan rivalitas diluar sepakbola. Saat ekpektasi suporter ingin membantai Malaysia, RD lebih memilih untuk mengistirahatkan beberapa pemain kunci. Tentu ini dimaksudkan agar pemain terhindar dari cedera dan akumulasi kartu. Andrytani, Yeriko, Lukas, Yongki kemudian menjadi pemain lapis yang diturunkan sejak menit pertama.

Strategi rotasi pemain seharusnya berjalan baik. Namun memang ada beberapa fungsi yang gak berjalan secara ideal. Misal Yongki yang menurut lo diumpat habis2an sama temen2 lo. Menurut komentator emang Yongki yang diplot sebagai target man (rotasi Patich Wanggai) tidak berjalan baik. Sebagai target man harusnya bisa menahan bola (melindungi bola) dan bisa melindungi bola. Kontrol bola yang sering hilang dan kalah body balance menyebabkan bola mudah terebut tim lawan. Pemain lain misal Lukas Mandowen yang diposisikan sebagai pengganti Okto. Semalem itu Lukas kurang bisa melakukan akselarasi menusuk dari sayap seperti yang biasa Okto lakukan. Satu lagi, di posisi bek kiri. Yeriko Cristantoko, sangat baik dalam membantu serangan namun lambat turun untuk bertahan. Dan gol yang terjadi berawal dari kebocoran di sisi kiri pertahanan kita. Paling tidak yang bermain tadi malam adalah tim lapis kedua dan bukan kekuatan utama. Jadi masih ada harapan pada kekuatan utama untuk bisa meraih emas di SEAGAMES 2011.

Memang yang namanya euforia pasti memberi kesan yang gak pernah hilang. Sepakbola bagi kalangan tertentu menjadi idola, gaya hidup, ideologi dan agama. Gak usah jauh-jauh menjadi idola tim-tim asing. Euforia itu bisa lo rasain ketika lo nonton dan hadir di stadion bukan dikafe-kafe yang cuma menggelar nonton bareng final liga Champion Eropa. Ibarat gue deh, se-MILANISTI apa pun gue, gue akan pernah bisa menjadi seperti MILANISTI yang ada di kota MILANO, itu yang bikin gue selalu dukung PERSIJA JAKARTA.

Seandainya PSSI era Djohar Arifin mampu berbuat adil terhadap PERSIJA Jakarta, gue yakin SUGBK bisa lebih semarak dengan kehadiran teman2 The Jakmania.

Dan... itulah cerita gue....
Gimana menurut lo Ran?
Wassalam....

Senin, 14 November 2011

KOMPETISI HATI

Lagu Kidung Mesra milik KLA Project, menemani saya malam ini. Sangat pas dengan suasana hati saya saat ini. Sunyi malam dibalik ramai kota ini. Saya jadi teringat pada obrolan beberapa waktu lalu dengan seorang teman. Obrolan ringan tentang saya dan dia di masa datang. Dia berkesimpulan bahwa setiap orang pasti akan melakukan 3 kata berikut, Koleksi, Seleksi dan Resepsi. Awalnya memang tidak menarik, mungkin karena saya belum berfikir jauh hingga ke tahapan tersebut.

Dalam hati, masih berfikir mengapa ada 3 macam kata ini. Memang jika dalam keadaan berdiri sendiri tak banyak mengandung arti. Tapi saat dirangkai dalam satu buah kalimat tentu menjadi sebuah tahapan dalam hidup. Yak, pasti! Mungkin semua orang akan melakukan hal yang sama, tidak peduli pria maupun wanita. Sebenarnya saya kurang suka akan hal ini. Saya berkesimpulan inti dari kata-kata ini adalah “KOMPETISI” dalam menentukan pasangan. Kompetisi erat kaitan dengan permainan yang selalu memunculkan pemenang. Dan pemenang dari sebuah kompetisi bukanlah sesuatu yang selalu sempurna bukan?

Koleksi, saya artikan mengumpulkan sesuatu yang kita sukai. Hobi? Tidak masalah selama hal tersebut tidak menimbulkan beragam masalah. Tapi menjadi aneh ketika kita mengumpulkan beraneka macam model calon pasangan. Pada tahap ini memang masih berstatus calon pasangan. Semakin banyak koleksi semakin banyak pilihan. Saya tidak menyebut sebagai sifat gampangan, namun ini menunjukkan sifat kekhawatiran kalian dalam menghadapi semua. Khawatir akan apa? Tidak mendapat pasangan? Mungkin saja namun sederhananya, saat membaca undangan sebuah acara pernikahan pasti akan terpampang ayat Al Quran yang intinya bahwa Tuhan menciptakan pasangan. Jadi buat apa kalian mengoleksi objek hidup?

Seleksi, ini adalah proses yang paling menyakitkan. Saat kalian mengoleksi mereka, banyak harapan yang diberikan pada mereka. Harapan yang diberikan kemudian menimbulkan sikap manis, dimana selalu menimbulkan rasa aman dan nyaman pada semua calon pasangan. Nah ini yang aneh, idealnya semua orang pasti mampu dan mau menerima sifat baik dari si pasangan. Namun bagaimana dengan keburukannya? Ini kemudian menjadi alasan dasar proses seleksi. Ada hal yang lebih menyakitkan ketika proses seleksi terjadi akibat pantas atau tidak pantas seseorang dipamerkan pada orang lain. Layaknya seleksi alam, yang tidak ideal akan terseleksi. Lalu apa yang kemudian menjadi batasan ideal? Memang tiap individu berbeda dalam hal ideal.  Tapi tolong gunakan hati kalian dalam melihat hal ini. 

Resepsi, adalah tujuan dari semua. Sebuah janji suci dalam ikatan yang suci pula. Semua orang pasti ingin melalui semua dengan baik. Tidak banyak yang kemudian mengalami kegagalan setelah resepsi. Mungkin saja hal ini terjadi karena proses seleksi kalian yang kurang baik. Walau bukan menjadi jaminan pula bahwa proses seleksi yang baik memudahkan langkah berikutnya. Intinya adalah, saling menerima baik buruk dan keterbukaan bisa menjadi salah satu kunci. Karena saya belum bisa membayang hal-hal yang terjadi setelah tahapan tersebut.

Sebenarnya semua orang berhak dan bebas dalam menentukan jalur mana yang akan dipilih. Karena semua orang memang menjadi pemimpin bagi dirinya. Lalu ketika saya ditanya dari 3 tahapan tersebut, saya berada dimana? Saya menjawab, tidak melaksanakan 3 tahap tersebut. Keyakinan saya adalah bahwa pilihan Tuhan adalah yang terbaik bagi manusia, saat manusia selalu menginginkan yang terbaik, bukankah Tuhan selalu mengerti apa yang dibutuhkan manusia.

Didedikasikan kepada rekan diskusi saya malam itu.