Pagi tadi gue dapet pesan singkat (...sebenernya panjang...) dari temen gue yang nonton langsung pertandingan INDONESIA vs malaysia di SUGBK. Gue sendiri emang gak bisa dateng langsung di SUGBK (gak perlu jelasin alasannya kan?). Lewat layar kaca gue juga gak nonton penuh pertandingan ini. Logikanya, pertandingan ini gak sebatas pertandingan sepakbola saja (ini menurut pendapat gue yah), banyak luapan emosi yang disebabkan oleh rivalitas negara serumpun, mulai dari klaim budaya, wilayah, alat musik, makanan khas hingga kasus tenaga kerja informal yang bekerja di negara tetangga (gue pernah bahas ini beberapa hari lalu). Dan rivalitas kali ini adalah sepak bola. Ibarat dendam yang mentes dihati dan mengeras menjadi batu. Gue pengen malam tadi menjadi ajang balas dendam di final PIALA AFF akhir tahun lalu.
Awalnya gue bingung sejak kapan seorang Rani jadi doyan nonton bola. Karena setau gue lo itu ogah dan gak suka sama bola. Dan kini Rani pun menjadi ULTRAS GARUDA, pendukung setia disaat menang ataupun kalah. Tapi itulah hak asasi, dimana semua orang punya hak yang terbawa sejak lahir dan kita harus menghormatinya. Gak usah lagi lo mengutuki temen2 lo yang bodoh dan dateng telat sampe hampir gak bisa masuk. Yang penting bisa masuk walau dengan berbagai macam aroma.
Hehehe... Tapi gue interest waktu lo bilang "ada oknum yang jual tiket buntung". Banyak hal yang bikin oknum jadi kaya gitu. Bisa aja jatah uang makan mereka gak lebih dari jatah aparat Brimob yang diberikan oleh PT Freeport di Papua. Yah... itung-itung cari penghasilan tambahan buat istri dan anak dirumah kali ya. Buat kapasitas, yang gue tau SUGBK mampu menampung 88.000 penonton (aslinya 100.000 penonton). Awalnya stadion ini dibuat diperkirakan mampu untuk bertahan hingga tahun 2012, tapi setelah direnovasi ditahun 2007 masa pakai diperpanjang hingga 2051. Tahun 2004, di final piala Tiger Indonesia vs Singpura tercatat 120.000 penonton. Kita memang gak pernah menginginkan hal buruk terjadi. Tapi jelas tindakan oknum menjual tiket buntung itu salah.
Dan menurut gue, kita juga gak bisa menyalahkan aparat itu juga. Paling tidak kedewasaan dari suporter kita juga harus ditingkatkan. Kita harus sadar, bahwa ketika tiket habis berarti memang sudah sesuai dengan kemampuan stadion menampung massa. Panitia suatu event pasti akan mencetak lembar tiket dibawah kapasitas stadion, ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal buruk yang mungkin bisa terjadi. Lagipula setau gue panitia menyediakan big screen diluar arena SUGBK. Nah kalo kita sadar akan keselamatan diri, otomatis kita tidak akan pernah membeli tiket buntung juga kan?
Tentang jalannya pertandingan, secara taktik dan strategi memang pelatih lebih tau dan mengerti kebutuhan tim. Kali ini Rahmad Darmawan benar-benar mengesampingkan ego dan rivalitas diluar sepakbola. Saat ekpektasi suporter ingin membantai Malaysia, RD lebih memilih untuk mengistirahatkan beberapa pemain kunci. Tentu ini dimaksudkan agar pemain terhindar dari cedera dan akumulasi kartu. Andrytani, Yeriko, Lukas, Yongki kemudian menjadi pemain lapis yang diturunkan sejak menit pertama.
Strategi rotasi pemain seharusnya berjalan baik. Namun memang ada beberapa fungsi yang gak berjalan secara ideal. Misal Yongki yang menurut lo diumpat habis2an sama temen2 lo. Menurut komentator emang Yongki yang diplot sebagai target man (rotasi Patich Wanggai) tidak berjalan baik. Sebagai target man harusnya bisa menahan bola (melindungi bola) dan bisa melindungi bola. Kontrol bola yang sering hilang dan kalah body balance menyebabkan bola mudah terebut tim lawan. Pemain lain misal Lukas Mandowen yang diposisikan sebagai pengganti Okto. Semalem itu Lukas kurang bisa melakukan akselarasi menusuk dari sayap seperti yang biasa Okto lakukan. Satu lagi, di posisi bek kiri. Yeriko Cristantoko, sangat baik dalam membantu serangan namun lambat turun untuk bertahan. Dan gol yang terjadi berawal dari kebocoran di sisi kiri pertahanan kita. Paling tidak yang bermain tadi malam adalah tim lapis kedua dan bukan kekuatan utama. Jadi masih ada harapan pada kekuatan utama untuk bisa meraih emas di SEAGAMES 2011.
Memang yang namanya euforia pasti memberi kesan yang gak pernah hilang. Sepakbola bagi kalangan tertentu menjadi idola, gaya hidup, ideologi dan agama. Gak usah jauh-jauh menjadi idola tim-tim asing. Euforia itu bisa lo rasain ketika lo nonton dan hadir di stadion bukan dikafe-kafe yang cuma menggelar nonton bareng final liga Champion Eropa. Ibarat gue deh, se-MILANISTI apa pun gue, gue akan pernah bisa menjadi seperti MILANISTI yang ada di kota MILANO, itu yang bikin gue selalu dukung PERSIJA JAKARTA.
Seandainya PSSI era Djohar Arifin mampu berbuat adil terhadap PERSIJA Jakarta, gue yakin SUGBK bisa lebih semarak dengan kehadiran teman2 The Jakmania.
Dan... itulah cerita gue....
Gimana menurut lo Ran?
Wassalam....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar