Hari ini hastag #InIndonesia vs #InMalaysia heboh banget di twitter. Kocak, lucu dan heboh. Gue pikir emang negara serumpun bakal ada banyak gesekan. Mirip sama hidup bertetangga, sesama tetangga saling iri, cemburu dan belomba menunjukkan siapa yang terbaik. gue jadi inget film yang dimainin sama al. Benyamin S yang judulnya MUSUH BEBUYUTAN. Film tentang dua rumah tangga yang saling ribut mulai dari anak, ibu sampai bapaknya yang ikut-ikutan ribut. Mirip deh sama kejadian hari ini di dunia kicau burung. Gak yang tua, gak yang muda, gak yang di Indonesia dan Malaysia sama heboh. Heboh menunjukkan siapa yang bakal jadi TT hari ini. Gue pikir kurang kerjaan banget yah, sama kaya gue yang kurang kerjaan sampe-sampe ikutan baca hastag nya.
Memang sejarah persaingan tidak pernah terlepas dari perjalanan antara Indonesia dan Malaysia. Kalo pada masih inget dimasa pemerinatahan Bung Karno ada semboyan GANYANG MALAYSIA. Gila gak tuh, waktu zaman itu rupanya bung Karno mungkin sudah sadar bahwa jika negara persemakmuran Inggris ini bener-bener terbentuk bakal jadi ancaman yang nyata untuk Indonesia. Kenyataan itu tampaknya memang bukan alasan bohong. Ketika kita kehilangan Sipadan dan Ligitan, kemudian sengketa perbatasan yang masih berlarut-larut. Pencaplokan wilayah dengan menggeser patok batas negara juga bukan menjadi isu. Terlepas dari masalah perbatasn, Indonesia juga sering terjadi konfrontasi di bidang budaya, saling klaim tentang tarian daerah atau budaya lokal.
Gue juga semakin sadar tentang negara ini. Dengan keanekaragaman yang ada didalamnya gue pikir bahwa bangsa ini memang tidak akan pernah bersatu. Biarkan saja dalam keanekaragaman niscaya bangsa ini akan bersatu dengan sendirinya. Liat aja di TT, gue gak yakin mereka yang sedang mengagungkan Indonesia di tweet-nya selalu mencintai negerinya, yah paling tidak saat tertentu pasti akan menghujat tentang keadaan negara ini. Entah lalu lintas, keadaan ekonomi, politik, pendidikan ataupun pejabat elit di negeri ini. Tapi ini yang gue seneng, ketika kita di hadapkan dengan sebuah masalah (musuh) tanpa ada komando pun semua pasti akan berteriak tentang INDONESIA. Apalagi musuhnya negeri tetangga. Bakal gak akan ada habisnya menghujat negeri sebelah.Tapi bukan dengan meghujat kita lantas bangga. Ada hal lain yang musti kita wujudkan. Yah, paling tidak kita memiliki potensi dalam diri pemudanya untuk tetap bangga dengan negeri ini.
Sayangnya potensi ini sepertinya kurang direspon secara baik oleh pengurus negeri ini. Ada baiknya energi ini kemudian menjadi modal dalam pembangunan. Persaingan antar dua negara ini bisa menjadi pemicu kemajuan diberbagai bidang. Rasa tidak ingin kalah ataupun dikalahkan oleh negeri sebelah menjadi motivasi dalam tindakan nyata. Bisa saja dalam event SEA GAMES mendatang. Indonesia yang menjadi tuan rumah. Buktikan bahwa Indonesia memang yang terbaik di ASIA TENGGARA. Dalam beberapa penyelenggaraan terakhir Indonesia memang semakin tertinggal oleh Thailand bahkan tertinggal oleh Malaysia dan Vietnam. Sedih memang, melihat kenyataan ini. Saat seperti ini masih saja pejabat dinegeri ini melakukan politik pencitraan. Pencitraan yang gagal. Bahkan Kementrian yang terlibat langsung dengan pelaksanaan SEA GAMES malah terlibat korupsi. Bahkan pimpinan Kementrian-nya pun lolos dari agenda reshufle kabinet. Karena itu tidak salah jika kami merindukan pemimpin yang tegas dan berani dalam bersikap sebagai NEGARAWAN.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar