Selasa, 25 Oktober 2011

Kami Tak Pernah Usang


Ada kain lusuh dihadapan ku. Entah ulah siapa tergeletak tak bernyawa. Tak bernyawa namun tidak mati. Untuk mati pun, kami butuh perjuangan. Perjuangan tanpa akhir. Akhir dari kisah ini tak pernah menentu. Memang segala ketentuan adalah milik Tuhan. Tapi, apakah Tuhan tidak pernah berkompromi dengan keputusannya? Tuhan maha sempurna, tidak alpa dalam berkeputusan. Hanya saja memang kami yang tak mengerti tentang jalan hidup ini. Bahkan seseorang yang hidupp dijalan pun sering menemukan tanda tanya besar dari kebijakanNya.

Kain lusuh itu memang tak lagi indah. Merah tak lagi menyala. Putih pun tak lagi bersih. Hendak serupa dengan negeri ini. Menangis darah yang jatuh ke bumi menuntut sebongkah adil dari kuasa. Tak lagi putih menenangkan jiwa-jiwa pahlawan. Kami mengerti, kalian akan menangis melihat bangsa ini. Cita-cita kalian tidak berlanjut. Mati terkubur bersama jasad kalian. Jiwa penerusmu tak lagi putih, lusuh mengikuti warna kain itu. 

Kain itu seperti sedang merindu. Merindu aliran darah merah yang terus memacu bersama perjuangan bangsa ini. Merindu jiwa-jiwa suci yang menyemangati perjuangan bangsa ini. Kain itu tidak pernah lelah, walau hanya merindu. Ketika kesemua menjadi usang, semangat itu tidak ikut usang. Berdiri tegak menentang angin. Tidak lelah menemani perjalanan yang penuh kedegilan yang absurd.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar