Timnas Indonesia kembali menelan kekalahan saat menjamu Qatar di SUGBK. Kekalahan ini, menurut gue menjadi sebuah pertanda akhir harapan untuk melaju ke babak berikutnya dalam ajang PPD Brazil 2014. Dengan sisa 3 pertandingan rasanya berat untuk mengatakan bahwa Indonnesia masih memiliki peluang. 2 pertandingan tandang melawan Bahrain dan Qatar dan 1 pertandingan kandang melawan Iran. Gue bukan pesimis terhadap timnas kita, hanya saja gue lebih memilih untuk bersikap realistis. Tetap saja sepesimis apapun kita memang tidak akan pernah menghentikan dukungan pada bangsa ini.
Ada beberapa hal yang menjadi perhatian gue dalam pertandingan tadi. Dari sisi permainan gue tidak merasakan perubahan yang mencolok. Memang dua sayap Ridwan dan Ilham mampu memberikan kontribusi yang lebih baik dari pertandingan sebelumnya. Dua gol yang tercipta memang berawal dari permainan agresif sayap timnas kita. Sayangnya memang permainan timnas tidak mampu tampil konstan dalam 2x45 menit. Sehingga terkadang para punggawa Garuda bermain dibawah tekanan Qatar. 3 gol yang tercipta oleh pemain Qatar dapat manjadi indikasi bahwa timnas kita memiliki masalah koordinasi diantara lini. Permasalahan klasik yang mungkin sangat sulit dibanahi oleh pelatih.
Hal yang menjadi catatan gue berikutnya adalah bahwa pertandingan Timnas Indonesia VS Qatar tidak didukung oleh The Jakmania. Walaupun tidak dateng langsung ke SUGBK gue yakin kok bahwa mereka tetap dukung timnas walau hanya lewat layar kaca. Jadi jika ada yang menilai tindakan Jakmania tidak mencerminkan rasa nasionalisme itu adalah SALAH besar. Yang menjadi simpul kesalahan dalam hal ini berada pada penentu kebijakan. Kesalahan pengambilan keputusan dalam menentukan siapa yang berhak mengelola Persija inilah yang kemudian menjadi bukti bahwa kepengurusan PSSI sekarang juga tidak terlepas dari kepentingan tertentu. Kebijakan lain yang mungkin harus dikritisi adalah peserta Liga Indonesia musim depan. Peserta liga yang mencapai 24 kontestan akan sangat merugikan tim-tim yang berlaga nantinya. Dimana ada 46 pertandingan dalam 1 musim, jelas kompetisi akan berlangsung sangat panjang. Belum nanti jika ada penundaan pertandingan akibat PILKADA di berbagai daerah. Hal ini nampaknya juga kurang menjadi perhatian dalam penentuan keputusan oleh PSSI.
Diluar pertandingan gue juga mencatat hal yang memberi angin segar terhadap timnas kita. Sehari sebelum timnas berlaga ada 5 pemain naturalisasi yang diambil sumpah kewarganegaraan Indonesia. 2 pemain yang sangat tidak asing buat gue, Greg Nwakolo dan Victor Igbonefo. Gue pikir bahwa 2 pemain ini cocok dan tepat jika dapat dimasukkan ke dalam skuad tim nasional kita. Victor mampu untuk mengisi lini belakang agar lebih mapan bertahan sementara Greg sepertinya tidak ada yang meragukan kemampuannya dalam mengiris sayap pertahanan lawan. Paling tidak dua pemain ini diharapkan untuk mampu memberi semangat dan keyakinan bahwa timnas kita mampu untuk berbicara dipentas internasional.
Iya ini hanya sebuah harapan untuk kemajuan timnas kita. Satu hal yang menjadi perhatian kita adalah bahwa naturalisasi adalah bukan jalan keluar sebuah prestasi. Tetap dibutuhkan proses pembinaan pemain muda yang bersifat kontinyu. Pembinaan yang berjenjang dan kebersamaan yang terpupuk sejak awal paling tidak akan menciptakan suasana kebersamaan dalam tim. Sehingga akan menciptakan koordinasi dan pengertian yang baik antar pemain, baik diluar maupun di dalam lapangan hijau.
Maju terus sepakbola Indonesia.
Saat politik saling cacimaki maka bagi kami football for unity.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar